Lebihparah lagi kalau yang dighibahi dan dicari auratnya itu, dicari aibnya itu, orang yang punya kedudukan, Na'udzubillah. 🗂Dibongkar. Na'udzubillah. Lebih besar dosanya, lebih keji dosanya, lebih mengerikan kemunafikannya dan lebih dahsyat efek negatifnya nanti. Sanksinya lebih mengerikan.
fwolDn. Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor. Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan HatiKhutbah kedua – Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan HatiDownload mp3 Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وقال تعالى، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ Ummatal Islam, Senantiasa kita memuji Allah atas limpahan karunia yang Allah berikan kepada kita. Dan khatib mewasiatkan dirinya untuk bertakwa kepada Allah dan demikian pula kepada jamaah sekalian. Karena sesungguhnya takwa adalah sebaik-baiknya perbekalan menuju kehidupan akhirat. Ketahuilah Ya Ummatal Islam, sesungguhnya hati manusia tak akan pernah bisa hidup dan tak akan pernah dia bisa tentram kecuali dengan mengenal penciptanya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hati yang senantiasa mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu menjadi hati yang benar-benar ditumbuhi dengan berbagai macam tanaman iman; hati yang ditumbuhi dengan rasa takut kepada Allah, hati yang ditumbuhi oleh rasa cinta kepada Allah, rasa berharap kepada Allah, bertawakal kepada Allah, itulah hati yang hidup. Dan kehidupan hati -Ya Akhal Islam- tentu lebih agung daripada kehidupan badan. Makanya Ya Akhal Islam, selayaknya setiap muslim untuk memperhatikan kehidupan hatinya. Karena sesungguhnya keselamatan ia di akhirat tergantung kepada keselamatan hatinya. Allah berfirman يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩﴾ “Pada hari tidak akan bermanfaat harta dan anak-anak. Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat.” QS. Asy-Syu’ara'[26] 88-89 Ternyata keselamatan hati itu menyebabkan kita selamat di akhirat kita Ya Akhal Islam. Maka Ya Akhal Islam, seorang mukmin berusaha untuk terus memperbaiki hatinya, berusaha terus untuk intropeksi terhadap dirinya dan hatinya melebihi seorang mukmin memikirkan badannya dan kesehatan badannya. Ummatal Islam a’azzakumullah wa iyyakum, Banyak di antara kita yang begitu semangat untuk memperbaiki amalan badan kita, namun terkadang kita lalai dari mengingat tentang amalan hati kita. Mungkin kita banyak berpuasa, mungkin kita banyak shalat malam, mungkin kita banyak melakukan amalan-amalan, tapi ternyata hati kita masih ada padanya kesombongan, ternyata hati kita masih ada padanya ujub, merasa bangga dengan amalan, ternyata di hati kita masih ada kedengkian, ternyata di hati kita masih ada su’udzan, demikian pula semua penyakit-penyakit itu ternyata masih bertengger di hati kita Ya Ummatal Islam. Sehingga akhirnya ternyata amalan itu tidak membersihkan hati kita. Adalah Salafush Shalih lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan dengan kesehatan badannya, lebih memperhatikan amalan hati dibandingkan dengan amalan badan. Walaupun amalan badan memang besar, akan tetapi amalan hati lebih besar dari itu. Tawakal kepada Allah adalah amalan hati, cinta kepada Allah adalah amalan hati, takut kepada Allah, berharap kepada Allah adalah amalan hati. Dari amalan hati ini akan muncul amalan badan. Tak mungkin seseorang kuat untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah kecuali ketika hatinya telah ada rasa takut kepada Allah, ketika hatinya telah ada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Ya Akhal Islam, berusaha bagaimana menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah, rasa takut kepada Allah, tawakal kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya dengan banyak berzikir kepada Allah, di antaranya dengan banyak mengingat Allah, di antaranya dengan banyak mengenal Allah, siapakah Rabb kita? Karena itu adalah kebahagiaan yang sesungguhnya Ya Ummatal Islam. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang hatinya keras dari berdzikir kepada Allah. Allah berfirman فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّـهِ “Celaka orang-orang yang keras hatinya dari mengingat Allah.” أُولَـٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿٢٢﴾ “Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.” QS. Az-Zumar[39] 22 Allah mengancam dalam ayat ini orang-orang yang hatinya keras dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengatakan “Neraka wail, celaka untuk dia.” Berarti jarangnya berdzikir menunjukkan kerasnya hati Ya Akhal Islam. Maka dari itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berusaha bagaimana hamba-hambaNya banyak berdzikir kepada Allah. Maka Allah mensyariatkan shalat lima waktu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mensyariatkan dzikir-dzikir semenjak kita bangun dari tidur sampai kemudian kita tidur. Rasulullah mengajarkan kepada kita dzikir-dzikirnya, demikian pula shalatnya. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk baca Al-Qur’an, Rasulullah menganjurkan kita untuk memperbanyak mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu akbar. Allah berfirman ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّـهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴿٤٢﴾ “Wahai orang-orang yang beriman, banyaklah berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang banyak.” QS. Al-Ahzab[33] 41 Maka Ya Akhal Islam, mengapa Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir kepada Allah? Karena itulah kehidupan hati kita. Tak mungkin hati kita hidup tanpa banyak berzikir kepada Allah. Oleh karena itulah Allah mensifati orang-orang munafiqin, mereka itu orang-orang yang jarang berdzikir kepada Allah. Allah berfirman إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّـهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّـهَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿١٤٢﴾ “Sesungguhnya orang-orang munafik itu -kata Allah- mereka menipu Allah dan Allah akan menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malasnya, itu pun riya’ karena ingin dipuji manusia.” Kemudian Allah mengatakan وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّـهَ إِلَّا قَلِيلً “Dan mereka tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit saja.” QS. An-Nisa'[4] 142 Disaat hati kita jarang berdzikir, disitulah penyakit kemunafikan akan bertengger di hati kita Ya Ummatal Islam. Maka belumkah saatnya kita untuk banyak berzikir kepada Allah? Belumkah saatnya hati kita untuk takut dengan dzikir kepada Allah? Allah berfirman أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّـهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ ﴿١٦﴾ “Belumkah saatnya untuk orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk dengan dzikir kepada Allah? Janganlah mereka seperti orang-orang ahli kitab sebelum mereka, masa berlalu panjang kepada mereka ternyata panjangnya masa berlalu panjang kepada mereka, ternyata panjangnya masa membuat hati mereka kerasa. Dan kebanyakan mereka menjadi orang-orang yang fasik.” QS. Al-Hadid[57] 16 Ummatal Islam, Betapa butuhnya hati kita kepada dzikir kepada Allah. Bahkan ulama Salaf terdahulu berkata “Hati tanpa dzikir bagaikan ikan tanpa air,” sebagaimana ikan akan mati tanpa air, demikian pula hati akan mati tanpa berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Ya Akhal Islam, adakah kebahagiaan dari seorang hamba ketika seorang hamba banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Demi Allah, maka celaka orang yang banyak mengingat manusia tapi jarang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia sering mengingat kesalahan-kesalahan orang, mengingat Si Fulan, tapi ia jarang berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal kata para ulama ذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ، وَذِكْرُ اللهِ دَوَاءٌ “Mengingat manusia itu adalah penyakit hati, sedangkan mengingat Allah adalah obat untuk hati.” أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم Khutbah kedua – Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ Ummatal Islam, Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menganggap bahwa harta paling berharga yang dimiliki oleh seorang hamba adalah tiga perkara. Yang pertama وَلِسَانًا ذَاكِرًا “Lisan yang selalu berdzikir kepada Allah.” Yang kedua قَلْبًا شَاكِرًا “Hati yang selalu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah.” Dan yang ketiga زَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الآخِرَةِ “istri yang shalihah yang membantu kalian untuk meraih akhirat.” HR. Tirmidzi Itu adalah sebaik-baiknya perhiasan, sebaik-baiknya harta yang dimiliki oleh seorang hamba. Maka Ya Akhal Islam, lisan yang tidak banyak berzikir kepada Allah, pasti banyak berghibah, pasti banyak berbuat maksiat, pasti banyak mengucapkan kata-kata yang tidak diridhai oleh Allah, pasti banyak mengucapkan kata-kata yang tidak ada manfaatnya. Maka lisan-lisan seperti itu Ya Akhi, akan banyak berbuat dosa akibat daripada lisan tak pernah berusaha untuk menghiasi hidupnya, hari-harinya, waktu-waktunya untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka banyaklah berdzikir kepada Allah, karena sesungguhnya itu adalah kehidupan hati kita. إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهم أعز الإسلام والمسلمين، اللهم انصر المسلمين في كل مكان يا رب العالمين اللهم تب علينا إنك أنت التواب الرحيم رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عباد الله إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر. Download mp3 Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati Podcast Download Duration 1313 — Sumber audio Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.
Khutbah I اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا الأحزاب 41 Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah Ada sebuah amalan yang ringan dilakukan, memberatkan timbangan, dicintai Allah yang Maha Penyayang, memasukkan seseorang ke surga yang penuh kenikmatan, dan menjauhkannya dari neraka yang penuh siksaan, namun seringkali dilalaikan oleh banyak orang, yaitu dzikrullah, dzikir kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk banyak berdzikr. Dia berfirman يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا الأحزاب 41 Maknanya “Wahai orang-orang yang beriman, berzdikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” QS al-Ahzab 41 Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ Maknanya “Perumpamaan orang yang berdzikr kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikr kepada tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” HR. al-Bukhari Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Dzikir kepada Allah bisa dilakukan dengan hati atau dengan lisan. Dzikir dalam hati artinya menghadirkan dalam hati rasa takut, pengagungan dan cinta kepada Allah ta’ala. Dzikir hati seperti ini lebih utama daripada dzikir lisan yang tidak disertai menghadirkan dalam hati rasa takut, pengagungan dan cinta kepada Allah ta’ala. Dan yang paling utama dan sempurna adalah menggabungkan antara dzikir lisan dan dzikir hati. Kemudian dzikir lisan yang disertai dzikir hati tidak seyogyanya ditinggalkan hanya karena khawatir disangka orang lain berbuat riya’ melakukan perbuatan baik dengan tujuan mendapatkan pujian dari orang lain. Semestinya yang dilakukan adalah tetap berdzikir dengan lisan dan hati, dan berusaha untuk melakukannya dengan tujuan mengharap ridla Allah semata. Karena meninggalkan perbuatan baik yang disebabkan manusia juga tergolong riya’, sebagaimana hal itu ditegaskan oleh al-Fudlail bin Iyadl rahimahullah. Seandainya kita selalu khawatir akan omongan dan sikap orang lain tentang apa yang kita lakukan, maka akan tertutup banyak sekali pintu kebaikan yang bisa kita lakukan. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Apakah yang dimaksud dzikir kepada Allah?. Imam an-Nawawi berkata dalam kitab al-Adzkar, “Ketahuilah bahwa keutamaan dzikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan semacamnya, bahkan setiap orang yang berbuat keta’atan kepada Allah ta’ala, maka dia berdzikr kepada Allah ta’ala, demikianlah yang dikatakan sahabat Sa’id bin Jubair radhiyallahu anhu dan para ulama lainnya.” Imam Atha’, salah seorang ulama di kalangan tabi’in rahimahullah berkata, “Majelis dzikir adalah majelis halal dan haram, bagaimana engkau membeli dan menjual, shalat dan berpuasa, menikah dan mentalak, berhaji dan semisalnya.” Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمًا [الأحزاب 35] Maknanya “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, maka Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” QS al-Ahzab 35. Apakah yang dimaksud banyak berdzikir dalam ayat di atas?. Menurut sahabat Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, yang dimaksud “banyak berdzikir kepada Allah” dalam ayat tersebut adalah berdzikir kepada Allah setelah shalat lima waktu, pada pagi dan petang, ketika akan tidur, ketika bangun dari tidur, ketika berangkat dari rumah dan pulang ke rumah. Sedangkan Imam Mujahid rahimahullah mengatakan bahwa tidaklah seseorang disebut banyak berdzikir sebelum ia berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Berbeda dengan dua pendapat di atas, Imam Atha’ rahimahullah mengatakan bahwa barangsiapa yang mendirikan shalat lima waktu dengan sempurna, maka ia tergolong sebagai orang yang banyak berdzikir. Sahabat Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا – أَوْ صَلَّى – رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا كُتِبَا فِي الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَه Maknanya “Jika seseorang membangunkan istrinya pada waktu malam, lalu keduanya shalat dua raka’at, maka keduanya tercatat ke dalam golongan orang-orang yang banyak berdzikir.” HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Bacaan-bacaan dzikir sangat banyak ragamnya. Di antara sekian banyak bacaan dzikir, manakah bacaan yang paling utama?. Bacaan dzikir yang paling baik dan paling utama adalah tahlil La ilaha illa Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي عِلْمًا يُقَرِّبُنِي مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً فَإِنَّهَا بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ هِيَ ؟ قَالَ هِيَ أَحْسَنُ الْحَسَنَاتِ رَوَاهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَة Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu, ia berkata Aku bertanya Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ilmu yang mendekatkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka. Beliau bersabda “Jika engkau mengerjakan keburukan, maka lakukanlah kebaikan, karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.” Aku bertanya Wahai Rasulullah, apakah La ila illa Allah termasuk kebaikan?. Beliau bersabda “La ilaha illa Allah adalah sebaik-baik kebaikan.” HR Ibnu Abi Syaibah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mengenai adab berdzikir, Imam an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar menjelaskan bahwa di antaranya adalah Jika dilakukan dengan duduk, maka hendaklah duduk dengan menghadap kiblat, penuh dengan perendahan diri, khusyu’, tenang dan menundukkan kepala. Hendaklah berdzikir di tempat yang tenang, jauh dari hal-hal yang mengganggu pikiran dan tempat itu bersih, seperti masjid dan tempat-tempat lain yang dimuliakan. Hendaklah mulut dalam keadaan bersih. Jika mulut bau, maka hendaklah menghilangkannya dengan bersiwak. Ketika berdzikir, hendaklah merenungkan dan menadaburkan makna dzikir yang dibaca. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Seorang mukmin yang memperbanyak dzikir dalam semua keadaannya, terutama dengan dzikir-dzikir yang warid diajarkan oleh Rasulullah, maka akan bersinar hatinya, semua kegelapan akan sirna dari hatinya, jernih jiwanya, cemerlang pikirannya dan dihindarkan dari godaan syetan. Dengan berdzikir kepada Allah pula, turun ketenangan dan ketenteraman pada hati seorang Mukmin. Allah ta’ala berfirman الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ الرعد 28 Maknanya “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS Ar-Ra’d 28. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Terakhir, kami mengingatkan kepada jamaah sekalian, supaya manfaat dan keutamaan dzikir bisa kita rasakan serta pahala dari dzikir bisa kita dapatkan, maka kita harus membaca dzikir dengan benar sesuai tempat keluarnya huruf disertai dengan kesungguhan, niat yang ikhlash dan kekhusyu’an. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
khutbah jumat keutamaan dzikir