PETUNJUKA (soal no. 1-103) : Pilih satu jawaban yang paling tepat. PETUNJUK B (soal no. 104-115): Soal terdiri atas 3 bagian, yaitu PERNYATAAN; kata SEBAB; dan ALASAN yang disusun berurutan. Pilihlah: (A) Jika pernyataan benar, alasan benar, dan keduanya menunjukkan hubungan sebab dan akibat. (B) Jika pernyataan benar, alasan benar, tetapi
Penyebabnyakarena batu gamping memiliki sifat porositas dan permeabilitas yang tinggi sehingga kemampuan melewatkan dan meloloskan air juga tinggi. Data sumber air untuk air bersih dan air minum menunjukkan terdapat 4 desa menggunakan mata air untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Keempat desa tersebut berada pada wilayah Pegunungan Kendeng
Banyakbinatang karang berkembang biak dengan baik sehingga jasad-jasadnya meninggalkan lapisan batu gamping yang tebal. Sedimen dengan ciri fasies Graptalit terbentuknya di lautan yang dalam, tetapi kini ternyata kebanyakan di antara lempung-lempung itu diendapkan di lautan yang dangkal , yang kadang-kadang tertutup oleh ganggang laut.
ZonaSelatan disebut wilayah pengembangan Gunung Seribu (Duizon gebergton atau Zuider gebergton), dengan ketinggian 0 m - 300 mdpl. Batuan dasar pembentuknya adalah batu kapur dengan ciri khas bukit-bukit kerucut (Conical limestone) dan merupakan kawasan karst. Pada wilayah ini banyak dijumpai sungai bawah tanah.
FormasiBatu Gamping New Guinea. Lempeng Pasifik terdiri atas batuan asal penutup (mantle derived rock), island-arc volcanis dan sedimen laut dangkal. Di Papua, batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua, Pegunungan Cycloop, Pulau Waigeo, Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang zona sesar Sorong dan Yapen pada
6WelOwc. Ilustrasi jenis batuan sedimen. Foto Unsplash/Wolfgang HasselmannBatuan merupakan unsur alam yang terdiri dari berbagai mineral dan saling terikat. Menurut proses pembentukannya, batuan dibagi menjadi tiga macam, salah satunya adalah batuan sedimen. Jenis batuan sedimen ada banyak pada dasarnya batuan sedimen terbentuk dari sedimentasi, namun terdapat banyak sekali jenis dari batuan yang satu ini. Inilah yang membuat banyak orang dibuat bingung dalam membedakan dengan jenis batuan Batuan Sedimen sebagai Batu AlamIlustrasi jenis batuan sedimen. Foto Unsplash/Scott WebbDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, sedimentasi adalah pengendapan atau hal mengendapkan benda padat karena pengaruh gaya berat. Sedangkan batuan sedimen adalah batuan yang paling banyak tersingkap di permukaan bumi, kurang lebih 75% dari luas permukaan sedimen terbentuk karena proses diagnesis dari material batuan lain yang sudah mengalami sedimentasi. Sedimentasi ini meliputi proses pelapukan, pelapukan, transportasi, dan pelapukan yang terjadi dapat berupa pelapukan fisik maupun kimia. Proses pelapukandan transportasi dilakukan oleh media air dan angin. Proses deposisi dapat terjadi jika energi transport sudah tidak mampu lagi mengangkut partikel dari buku Geografi Membuka Cakrawala Dunia oleh Bambang Utoyo 2007 41, secara umum, batuan sedimen dapat dikelompokkan berdasarkan cara pengendapan, tenaga yang mengendapkannya, dan tempat Berdasarkan Cara PengendapanBerdasarkan cara pengendapannya, batuan sedimen dibagi menjadi dua jenis, yakniJenis endapannya disebut endapan klastik atau endapan mekanis. Berdasarkan ukuran butirannya, sedimen klastik terbagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai butiran kasar, biasanya diendapkan di lingkungan darat, sungai, atau danau. Contoh jenis ini antara Iain breksi, konglomerat, dan batu butiran halus, biasanya diendapkan di lingkungan laut. Contohnya antara lain batu lempeng. lanau, serpih, dan terdiri atas proses langsung dan tidak langsung. Akibat adanya campuran pengaruh unsur Iain, batuan akan melarut dan mengendap dengan cepat membentuk batuan lain. Contohnya adalah gips, anhidrit, dan batu tidak langsung. Pembentukan batuan baru yang dibentuk dalam waktu yang relatif lama. Contohnya adalah batuan sedimen Berdasarkan Tenaga PengandapnyaBerdasarkan tenaga pengendapannya, batuan sedimen dibagi ke dalam empat jenis, yaitu sebagai aeolis atau aeris. Proses pengendapan material-material batuan yang dihasilkan dengan bantuan tenaga angin, contohnya Proses pengendapan material-material batuan yang dihasilkan dengan bantuan tenaga air, contohnya glasial. Proses pengendapan material-material batuan yang dihasilkan dengan bantuan tenaga es. Proses ini hanya terjadi pada wilayah pegunungan tinggi. Contohnya adalah batu Berdasarkan Tempat PengendapanBerdasarkan tempat pengendapannya, batuan sedimen dibagi ke dalam lima jenis, yaitu sebagai batuan sedimen yang diendapkan di daratan yang dipengaruhi oleh tenaga air, es, dan angin. Contohnya adalah batu pasir dan batuan sedimen yang diendapkan di laut, pada umumnya banyak mengandung mineral karbonat kapur. Batuan ini terbentuk dari sisa-sisa cangkang hewan laut, seperti moluska, alga, dan foraminifera. Contoh batu ini antara lain batu gamping, dolomit, dan sedimen yang diendapkan di danau atau rawa yang banyak mengandung unsur-unsur organik. Contohnya yakni tanah liat sedimen yang diendapkan di sekitar wilayah sungai dan merupakan akumulasi dari berbagai pengejaan air sungai. Sedimen fluvial banyak ditemukan di wilayah hilir atau muara sungai, di mana aliran air sudah melambat, contohnya sedimen yang diendapkan di ujung pengerjaan sebuah massa es. Contohnya adalah batu penjelasan tentang 3 jenis batuan dan cara terbentuknya. Semoga penjelasan di atas bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan tentang batuan yang terbentuk dari endapan ini. MZM
Abstrak Penelitian ini dilakukan di area pertambangan batugamping, Maruni, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Tujuan penelitian adalah untuk memperkirakan dampak penambangan batugamping terhadap imbuhan airtanah, dengan menggunakan metode APLIS. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain ketinggian tempat elevasi dari permukaan air laut, kemiringan lereng, litologi ,zona infiltrasi, dan jenis tanah. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai imbuhan airtanah mengalami penurunan. Kegiatan penambanganbatu gamping ini diperkirakan akan mengurangi imbuhan air tanah sampai dengan 72 %. Abstract This research has been conducted in the limestone mining areal, Maruni, South Manokwari district, Manokwari regency, West Papua province. The purpose of this research was to analyze the impact of the limestone mining to groundwater reserve, using APLIS methode. The variables used in this study were altitude elevation above sea level, slope, lithology, infiltration zone, and soil. The result of this research shows that groundwater reserve has decreased. Limestone mining activities will reduce groundwater reserve up to 72%. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free ISSN 2085 – 6245 1 Khristian E Pamuji Dampak Penambangan Batu Gamping Terhadap Cadangan Air Tanah DAMPAK PENAMBANGAN BATU GAMPING TERHADAP CADANGAN AIR TANAH Studi Kasus Penambangan Batu Gamping, Maruni, Manokwari, Papua Barat Khristian Enggar Pamuji Prodi Fisika Jurusan Fisika FMIPA UNIPA Jl. Gunung salju Amban, Manokwari e-mail k_enggar_p Abstrak Penelitian ini dilakukan di area pertambangan batugamping, Maruni, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Tujuan penelitian adalah untuk memperkirakan dampak penambangan batugamping terhadap imbuhan airtanah, dengan menggunakan metode APLIS. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain ketinggian tempat elevasi dari permukaan air laut, kemiringan lereng, litologi ,zona infiltrasi, dan jenis tanah. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai imbuhan airtanah mengalami penurunan. Kegiatan penambanganbatu gamping ini diperkirakan akan mengurangi imbuhan air tanah sampai dengan 72 %. Kata kunci Imbuhan airtanah, APLIS, Dampak pertambangan Abstract This research has been conducted in the limestone mining areal, Maruni, South Manokwari district, Manokwari regency, West Papua province. The purpose of this research was to analyze the impact of the limestone mining to groundwater reserve, using APLIS methode. The variables used in this study were altitude elevation above sea level, slope, lithology, infiltration zone, and soil. The result of this research shows that groundwater reserve has decreased. Limestone mining activities will reduce groundwater reserve up to 72%. Keywords Groundwater reserve, APLIS, The mining impact 1. PENDAHULUAN Otonomi daerah adalah sebuah peluang bagi daerah untuk mengelola sendiri daerahnya. Antara lain menggali potensi sumberdaya alam untuk menghasilkan Pendapatan Asli Daerah PAD yang sebesar-besarnya. Namun juga otonomi daerah adalah sebuah tantangan bagi daerah untuk memanfaatkan hasil PAD bagi kesejahteraan masyarakatnya. Manokwari merupakan salah satu daerah otonomi di Indonesia telah menerima investasi penambangan batu Gamping di Maruni, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Investasi ini dibutuhkan untuk mendukung investasi pembangunan industri semen di Distrik Manokwari Selatan, dan Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Salah satu perusahaan swasta nasional telah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan IUP Eksplorasi yang dikeluarkan oleh Bupati Kabupaten Manokwari, untuk melakukan penambangan batu gamping. Dari 1500 Ha luasan yang diizinkan untuk dieksplorasi, perusahaan tersebut rencananya hanya akan menambang batu gamping seluas 190,517 Ha. Kegiatan penambangan batu gamping tentunya tdak terlepas dari kegiatan pembersihan lahan, pengupasan tanah pucuk dan tentunya kegiatan pembongkaran dan penghancuran. Kegiatan-kegiatan tersebut tentunya akan menyebabkan perubahan morfologi, tutupan lahan, tanah, kemiringan yang tentunya dapat mengganggu keberadaan airtanah dan imbuhan air tanah di daerah tersebut. 2. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Geologi Lokasi rencana tambang batugamping seluas 190,517 Ha, pada peta geologi bersistem ISSN 2085 – 6245 2 ISTECH Vol. 6, No. 2, Agustus 2014 ........ Indonesia, termasuk dalam Peta Geologi Lembar Manokwari, Irian Jaya saat ini telah menjadi Papua Barat edisi kedua yang disusun oleh Ratman, dkk. 1989 dan dipublikasikan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Departemen Pertambangan dan Energi saat ini Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Geologi regional pada uraian ini mencakup bentang alam dan stratigrafi. Bentang alam Secara regional fisiografi pada Lembar Manokwari meliputi tujuh satuan fisiografi yang terdiri dari Pegunungan tengah Kepala Burung, Dataran Arfak, Daerah perbukitan, Terumbu koral terangkat dan komplek pantai, Punggungan batu gamping, Rataan pantai dan aluvium, dan Inselberg bukit pencil batu gunungapi. Lokasi rencana tambang berada pada satuan fisiografi Punggungan batugamping yang topografinya dikuasai oleh tiga punggungan sejajar, punggungan membulat, memanjang dan berarah barat laut – tenggara sepanjang 8 km, lebar 1,5 km, bentang alam pada satuan ini berupa perbukitan gamping dengan ketinggian +30 m – +256 m Pieter dkk. 1983, dalam Ratman dkk, 1990. Gambar 1. Bentang alam lokasi penambangan batu gamping Stratigrafi Stratigrafi regional Manokwari meliputi lima Mandala Geologi, yaitu Blok Bongkah Kemum, Sistem Sesar Sorong/Ransiki, Blok Tamrau, Blok Arfak, dan Cekungan Manokwari. Lokasi rencana tambang berada pada Blok Arfak satuan Batu gamping Maruni Tmma yang berumur Miosen awal hingga Miosen Tengah. Litologi pada Formasi Batu gamping Maruni Tmma terdiri Biomikrit ganggang-foraminifera dengan sedikit biokalkarenit berbutir halus, mikrit lempungan dan batu napal. Hidrologi Daerah penambangan Batu Gamping memiliki karakteristik bentuk lahan dan hidrogeologi yang diakibatkan oleh kombinasi batuan yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang berkembang baik. Air tanah di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan porositas sekunder. Infiltrasi yang terjadi melalui peresapan pada rongga antar butir dan lebih dominan melalui kekar, retakan dan celah-celah batuan yang terjadi akibat pelarutan. Di Lokasi ini dijumpai beberapa sumber mata air tanah yang banyak dimanfaatkan oleh warga untuk menanam kangkung. Curah Hujan Data yang diperoleh dari Badan Meteorolgi Klimatologi dan Geofisika BMKG stasiun Rendani menunjukkan bahwa total rerataan curah hujan didaerah penelitian selama kurun waktu 18 tahun tergolong tinggi yaitu mm dengan rerataan hari hujan sebesar 16 hari/bulan. Data tersebut jika diperhitungkan dengan kriteria tipe hujan menurut Mohr, maka semua bulan kategorinya dimasukkan dalam bulan basah, dimana bulan basah dengan curah hujan > 100 mm. Imbuhan Airtanah Andreo dkk 2008 menyatakan bahwa imbuhan airtanah adalah sejumlah air hujan yang masuk kedalam sistim akuifer selama periode tertentu, meskipun tidak menutup kemungkinan imbuhan airtanah berasal dari air permukaan. Lubis 2006 menyebutkan bahwa wilayah imbuhan airtanah atau sering juga disebut dengan daerah resapan air adalah wilayah yang mampu meresapkan air, kemudian mampu ISSN 2085 – 6245 3 Khristian E Pamuji Dampak Penambangan Batu Gamping Terhadap Cadangan Air Tanah mengalirkannya sampai zona jenuh air. Karakteristik yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain menyebabkan setiap tempat memiliki kemampuan meresapkan air berbeda-beda. 3. METODE PENELITIAN Perhitungan cadangan air bawah tanah diperlukan data tebal akifer, sebaran akuifer dan transmisibilitas akuifer baik akuifer tidak tertekan maupun tertekan. Apabila data belum tersedia, maka cadangan airtanah tahunan disetarakan dengan imbuhan air tanah yang berasal dari air hujan. Air hujan sebagian menjadi air permukaan dan sebagian meresap kedalam tanah. Perkiraan awal imbuhan dapat di hitung dengan mengambil prosentase tertentu dari curah hujan rata-rata tahunan RF yang meresap ke reservoar air bawah tanah. Ketelitian metode ini tergantung pada angka prosentase imbuhan yang terpilih. Metode yang digunakan dalam penelitiannya ini adalah metode APLIS, Andreo, dkk 2008 menjelaskan bahwa metode ini menggunakan lima variabel yang didasarkan pada karakteristik hidrologi dan geomorfologi suatu wilayah. Oleh karena itu, maka metode ini hanya dapat digunakan untuk menentukan kerentanan airtanah instrisik dari suatu wilayah. APLIS merupakan singkatan dari lima varibel yang digunakan dalam bahasa Spanyol. Lima variable yang digunakan dalam Metode APLIS meliputi altitud ketinggian, pendiente kemiringan, litologia litologi, infiltraction preferencial zona infiltrasi, dan suelo tanah. Masing-masing variabel di kelaskan dan diberi skor sesuai dengan tingkat pengaruhnya terhadap besarnya imbuhan airtanah yang kemudian akan mencerminkan tingkat kerentanan airtanah disuatu wilayah. Pengambilan Data Data yang dibutuhkan untuk menentukan imbuhan airtanah adalah ketinggian, kemiringan, litologi, zona infiltrasi, dan jenis tanah. Lokasi pengambilan data berada didaerah penambangan batu gamping. Sedangkan untuk data curah hujan diperoleh dari stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG Manokwari. Analisis Data Kecepatan imbuhan terutama dikontrol oleh keadaan geologi, tanah, penutup lahan, penggunaan lahan, penutup lahan dan kemiringan lereng. Sebagai pegangan berdasarkan keadaan geologi percepatan imbuhan dari curah hujan tahunan rata-rata. Imbuhan pada akuifer dapat dihitung sebagai berikut RC = RF x A x RC % Keterangan RC imbuhan m3 /tahun RF Curah hujan rata-rata tahunan di daerah tangkapan A Luas area/ tadah m2 RC% Prosentase imbuhan. Sedangkan RC % sendiri ditentukan dengan menggunakan metode APLIS RC=A+P+3L+2I+S/ RC Imbuhan air tanah dalam persen A Ketinggian P Kemiringan Lereng L Litologi I Zona Infiltrasi S Tanah Untuk melihat dampak kegiatan terhadap air tanah maka hasil perhitungan imbuhan air tanah sebelum kegiatan dan prakiraan imbuhan air tanah setelah kegiatan kemudian dibandingkan. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Imbuhan Airtanah Sebelum Kegiatan Penambangan Berdasarkan data pengamatan lapangan dan berdasarkan peta kontur daerah ini memiliki ketinggian antara 30 sampai dengan 256 m atau ≤300 m dpal, sehingga skor untuk altitud adalah 1 A=1.Untuk pendiente kemiringan, daerah ini memiliki kemiringan antara 8 sampai dengan 16%, sehingga skor untuk pendiente adalah 9 P=8. Untuk litologia litologi, daerah ini merupakan batu gamping bercelah, sehingga memiliki skor litologi 6 L=6. Untuk infiltraction preferencial zona infiltrasi, daerah ini memiliki skor 6 I=6, dan terakhir adalah suelo tanah, jenis tanah ini termasuk ordo Entisol dengan ketebalan antara 30 sampai dengan 50 cm, sehingga memiliki skor 9 S=9. Berdasarkan skor tersebut, Dengan menggunakan metode APLIS, prosentase imbuhan RC daerah tersebut didapat sebesar 47% dan termasuk ISSN 2085 – 6245 4 ISTECH Vol. 6, No. 2, Agustus 2014 ........ dalam kategori sedang, artinya 47% dari air hujan yang turun didaerah ini akan meresap dan menjadi air bawah tanah. Dengan Intensitas curah hujan daerah ini mencapai 12,2 mm/hari, maka Imbuhan tanah di daerah ini diprakirakan mencapai 215,73 Juta m3/tahun Imbuhan Airtanah Setelah Kegiatan Penambangan Lokasi tambang batu gamping ini dekat dengan laut, ketinggian gunung +30 sampai dengan +256 m. Tingkat tertinggi deposit tersingkap adalah +255m, dan tingkat terendah adalah +65m, sehingga perbedaan ketinggian relatif adalah sekitar 190m. Lokasi penambangan dibagi menjadi tiga blok penambangan, dengan batas penambangan terendah ± 30 m. Penambangan batu gamping dilakukan secara bertahap dari blok 1 sampai blok 3, dimulai dari atas ke bawah, tinggi jenjang bench penambangan maksimum 15 m, dan kemiringan jenjang bench 750. Penambangan ini tentunya akan menyebabkan perubahan morfologi, ketinggian, hilangnya tanah penutup dan perubahan jenis batuan yang tentunya dapat mengganggu keberadaan airtanah. Penambangan ini menyebabkan bukit menjadi datar <3% sehingga mengubah skor kemiringan dari 9 menjadi 10. Meskipun ketinggian berubah, tetapi skor untuk ketinggian tetap, karena masih berada di bawah 300 m dpal. Begitu juga untuk litologi batuan, litologi batuan tidak mengalami perubahan, karena areal bekas tambang nantinya masih berupa batu gamping. Perubahan lainnya terjadi pada tanah, akibat dari penambangan, lapisan tanah akan hilang, sehingga skor untuk tanah menjadi 0. Begitu juga dengan zona infiltrasi, rekahan-rekahan akan hilang sehingga menyebabkan nilai untuk infiltrasi menjadi 1. Dengan demikian, akibat dari penambangan ini diperkirakan akan menyebabkan prosentase imbuhan menurun menjadi 34,4%. Prakiraan penurunan Imbuhan Air Tanah selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Perubahan Imbuhan Air Tanah Pada Saat Kegiatan Penggalian Gamping Kegiatan penambangan batu gamping akan mengakibatkan perubahan imbuhan air tanah. Jika tidak ada kegiatan maka daerah tersebut memiliki imbuhan air tanah sebesar 47,8 %, yang artinya 47,8 % air hujan yang jatuh ke bumi akan terserap/ terinfitrasi masuk kedalam tanah. Imbuhan tanah di daerah ini diperkirakan mencapai 215,73 Juta m3/tahun. Kegiatan penambangan batu gamping diperkirakan akan mengurangi imbuhan air tanah sampai 72 % atau hanya menyisakan 59,48 Juta m3/tahun pada saat kegiatan penambangan batu gamping selesai dilakukan. Jika tidak mendapat penanganan yang baik, maka penambangan batu gamping akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan terutama terhadap cadangan airtanah di lokasi penambangan, dimana saat ini banyak warga masyarakat memanfaatkan air untuk pertanian. ISSN 2085 – 6245 5 Khristian E Pamuji Dampak Penambangan Batu Gamping Terhadap Cadangan Air Tanah Gambar 2. Perubahan Imbuhan Air Tanah 5. KESIMPULAN Dengan menggunakan metode APLIS, prosentase imbuhan RC daerah penelitian didapat sebesar 47% dan termasuk dalam kategori sedang. Imbuhan tanah di daerah ini diprakirakan mencapai 215,73 Juta m3/tahun. Kegiatan penambangan batu gamping ini diperkirakan akan mengurangi imbuhan air tanah sampai 72 % atau hanya menyisakan 59,48 Juta m3/tahun pada saat kegiatan penambangan batu gamping selesai dilakukan. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, tentunya akan berdampak buruk bagi lingkungan. DAFTAR PUSTAKA [1] Andreo, B., Vias, J., Duran, ., Jimenez, P., Lopez-Geta, P. A., and Carrasco, F. 2008. Methodology for Groundwater Recharge Assesment in Carbonate Aquifer Application to Pilot Sites in Southern Spain. Hydogeology Journal, 16. 911-925 [2] Georg Petersen. 2005. Hydrological Impacts Assessment Study. United States Agency for International Development. USA. [3] Lubis, F. R. 2006 Bagaimana Menentukan Daerah Resapan Air Tanag? Jounal Inovasi, 618. 32-35 [4] Robinson. N Ratman, Pieters. 1990. Geologi Lembar Manokwari Irian Jaya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung Indonesia. [5] K. M. Kent . 1973. A Method for Estimating Volume and Rate of Runoff in Small Department of Agriculture Soil Conservation Service. 050100150200250Awal PenggalianBlok I dan IIPenggalianBlok IIISisa Imbuhan m3/TahunPenurunan Imbuhan Air Tanah ResearchGate has not been able to resolve any citations for this recharge can be determined by conventional methods such as hydrodynamic or hydrologic balance calculations, or numerical, hydrochemical or isotopic models. Such methods are usually developed with respect to detrital aquifers and are then used on carbonate aquifers without taking into consideration their hydrogeological particularities. Moreover, such methods are not always easy to apply, sometimes requiring data that are not available. Neither do they enable determination of the spatial distribution of the recharge. For eight regions in southern Spain, the APLIS method has been used to estimate the mean annual recharge in carbonate aquifers, expressed as a percentage of precipitation, based on the variables altitude, slope, lithology, infiltration landform, and soil type. The aquifers are representative of a broad range of climatic and geologic conditions. Maps of the above variables have been drawn for each aquifer, using a geographic information system; thus they can be superimposed to obtain the mean value and spatial distribution of the recharge. The recharge values for the eight aquifers are similar to those previously calculated by conventional methods and confirmed by discharge values, which corroborates the validity of the Menentukan Daerah Resapan Air Tanag?F R LubisLubis, F. R. 2006 Bagaimana Menentukan Daerah Resapan Air Tanag? Jounal Inovasi, 618. 32-35Geologi Lembar Manokwari Irian Jaya. Pusat Penelitian dan Pengembangan GeologiG P RobinsonP E Robinson. N Ratman, Pieters. 1990. Geologi Lembar Manokwari Irian Jaya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung Method for Estimating Volume and Rate of Runoff in Small WatershedsK M KentK. M. Kent. 1973. A Method for Estimating Volume and Rate of Runoff in Small Department of Agriculture Soil Conservation Service.
banyak batu gamping dijumpai di wilayah pegunungan